10% untuk Kornea yang Tergantikan

images

Semuanya adalah bermula dari hal yang biasa, hal yang tak tersadar bagiku. Hal yang mungkin oleh sebagian orang sering melakukannya, hal yang sering menjadi wejangan bagi dan dari orang lain, hal yang kisah dan keajaibannya sering aku dengar dari orang lain. Hal yang terkadang aku pun mengacuhkannya.
Hari itu adalah hari ketika aku mendapat pesan singkat dari ditmawa kampus bahwa beasiswaku untuk 6 bulan yang lalu sudah cair dan masuk ke rekeningku. Sesegera mungkin aku mengabarkan kabar bahagia ini kepada orang tua dan kakakku. Aku adalah seorang mahasiswa yang berasal dari keluarga yang pas-pasan. Ibuku harus meminjam uang pada anggota keluarga yang lain untuk membiayai kuliahku. Sejujurnya aku merasa berat ketika mengetahui bahwa ibuku sampai harus berhutang untuk membiayai kuliahku, namun orang tuaku memaksa dan menginginkan anaknya agar bisa duduk dibangku kuliah, agar mampu mempunyai kehidupan yang lebih dari kedua orangtuanya dan aku pun tak bisa mengelak gejolak untuk bisa melanjutkan studi di perguruan negeri dan kembali belajar menuntut ilmu.

more »

Category: Cerpen  Leave a Comment

Cerminku

Ada yang lucu hari ini, karenanya aku dibuat bertanya berkali-kali pada diriku sendiri. Terima kasih itu adalah sebuah teguran dan kritikan yang bagus dan tak aku sangka ternyata seperti itulah diriku. ‘Cerminku’ begitulah nama permainannya. Sebuah permainan dimana orang-orang mengomentari tentang diri kita dalam sebuah lembar kertas yang bertuliskan nama kita. Dari 19 orang yang hadir pada saat itu ada 5 orang yang berkomentar dengan isi yang sama “dewasa” intinya aku diminta untuk mencoba bersikap lebih dewasa. Awalnya aku bingung melihat 5 kata yang sama dalam lembar kertasku. Aku diam sejenak seraya bertanya dalam diriku sendiri, “kenapa banyak banget orang-orang yang berkomentar seperti ini?” tanyaku dengan menatap lamat-lamat kertas yang aku pegang. Lantas aku mencoba menunjukkannya kepada salah seorang temanku namun lebih tepatnya aku meminta pendapatnya, “coba lihat ini…!” pintaku seraya menyodorkan kertas milikku. Setelah ia melihat selintas kemudian ia tersenyum dan tak berkomentar apapun, sepertinya ia juga sedang meresapi kertas komentar miliknya. Setelah permainan itu berakhir, benakku masih terus bertanya, “sebegitu childishnya kah diriku sampai 5 orang komentar dengan kata yang sama?” aku terus bertanya dan mengoreksi diriku sendiri. Aku mencoba mem-flashback kejadian-kejadian masa-masa kemarin namun karena keterbatasan kepahamanku pun akhirnya pertanyaan itu belum juga terpecahkan.

more »

aku apatis

Hari ini aku menyadari sesuatu. Tepatnya adalah sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang aku lakukan selama ini tapi aku tak pernah menyadarinya. Entah darimana datangnya kesadaran itu. Secara tiba-tiba saja aku tersentak dengan sebuah kesalahan itu. Entahlah apakah ini fatal atau tidak.

Aku tersadar bahwa selama ini aku mempunyai sifat apatis. Aku tahu sifat itu memang sudah ada sejak lama. Dengan apatis pula, aku tidak menghiraukan sifat apatis yang ada dalam diri ku ini. Padahal sebagai seorang da’i tentunya tidak boleh bersikap apatis seperti itu, bagaimana perkembangan objek dakwah atau bagaimana caranya berdakwah jika kita memiliki sikap apatis?

Tentunya aku bersyukur karena ada sesuatu yang ibarat seperti teguran untukku. Iya  aku tidak boleh apatis.

Berbicara tentang kepahaman, kemarin temanku bilang bahwa orang yang paham adalah orang yang mempunyai semangat dari awal sampai akhir, bukan hanya diawal, diakhir, atau ditengah. Begitulah caranya membedakan antara orang yang paham dan tidak paham. Orang yang paham adalah orang yang mengerti, bukan orang yang mengerti tanpa tahu. Dan sejak saat kata-kata itu dikeluarkan dari mulutnya, saat itu aku melontarkan sebuah pertanyaan kepada diriku sendiri? Apa yang sedang aku lakukan disini? Apakah karena sebuah kepahaman atau karena rasa tanggung jawab yang tengah aku emban saat ini? Sebenarnya pertanyaan ini sempat mengaduk isi kepala dan hatiku. Sekali lagi aku tak mau segala amal yang aku lakukan berlalu begitu saja karena rusaknya sebuah niat dan keikhlasan.

more »

Oh Agamaku

Entah dari mana pembicaraan ini dimulai. Yang pasti hari ini banyak sekali yang ingin saya ungkapkan. Semuanya berawal dari media. Iya, memang tidak selamanya apa yang dibawakan media itu benar tapi, kita pun dituntut jeli dan memfilter informasi dari semua media yang kita konsumsi. Karena dizaman sekarang ini tidak sedikit media yang memanipulasi berita islam dan membuatnya seolah islam itu terpojok. Atau bisa jadi bahwa media memasukkan nilai – nilai yang merusak akidah kaum muslimin namun kaum muslimin sendiri tidak menyadarinya.

Saudaraku, beberapa hari ini tak hentinya aku memantau keadaan umat melalui media. Sedih rasanya ketika diri ini mendapati berita-berita yang tidak mengenakan terkait kondisi kaum muslimin saat ini. Entah dari keadaan dalam negeri ataupun keluar negeri, atau keadaan seorang individu yang menjadi figure public atau sebuah kelompok yang dikabarkan telah merusak citra islam.

Mungkin sama, sebagai seorang muslim yang ada cinta dihatinya untuk agama ini mungkin hati kita tergerak untuk melakukan kebaikan, mengubah kekufuran menjadi sebuah kebaikan, merubah kedzaliman menjadi hikmah. Tapi dengan kekufuran yang bertebaran dimana-mana justru membuat bingung mana yang akan disentuh terlebih dahulu. Iya, mungkin ini adalah PR untuk kita semua, PR kita semakin hari semakin menumpuk, yang satu belum kelar tapi sudah muncul PR yang lain. Mau tidak mau permasalahan utama yang menyebabkan kekufuran dari berbagai masalah yang timbul itu yang harus diberantas terlebih dahulu agar permasalahan yang lain ikut teratasi.

more »

Category: artikel  Leave a Comment

Laporan Praktikum

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
MATA KULIAH DASAR-DASAR BISNIS

“KUNJUNGAN LAPANG (FIELDTRIP) KE UNIT BISNIS”

 

 

Disusun Oleh:

Leni Siswati (A24110053)

Departemen Agribisnis

Fakultas Ekonomi Manajemen

Institut Pertanian Bogor

2013

 

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang dan Sejarah Perusahaan

Badan Usaha PT.D-Farm Agriprima merupakan Unit Pengolahan Susu yaitu unit teaching industry dibawah bagian Teknologi Hasil Ternak yang memiliki kegiatan pelayanan praktikum, penelitian, kunjungan, pelatihan dan pendampingan. Unit ini bekerjasama dengan PT D-Farm Agriprima sebagai operator pelaksana teknis di Unit Pengolahan Susu untuk melakukan proses produksi dan pemasaran.

Pada tahun 1980 pengolahan susu Fapet hanya berada di Kampus Gunung Gede dan produknya hanya terbatas pada Susu Segar saja. Penjualannya terbatas pada civitas akademika IPB. Ketika Fakultas Peternakan IPB pindah ke Darmaga pada tahun 1994 produk susu dikembangkan menjadi susu pasteurisasi, yogurt, puding susu dan lain-lain. Perkembangan Merk sekitar tahun 1980an susu ini belum memiliki merk. Kemudian pada tahun 1993 sampai 2003 susu tersebut telah dikenal oleh masyarakat dengan nama “Susu Fapet”walaupun belum memiliki nama resmi dari Fakultas Peternakan sendiri.

Akhirnya pada tahun 2003-2008 Fakultas Peternakan memberikan paten pada produk tersebut dengan nama “Susu Fapet” dan pada tahun 2008 merk tersebut berubah menajdi nama “D-Farm”. Perubahan ini dimaksudkan agar produk ini mendapat lisensi dari Departemen Kesehatan sehingga dapat memperluas pemasaran produk. (Milky Fapet, 2009)

more »

Category: artikel  Leave a Comment

ukhuwah?

Ada seseorang yang pernah bertanya kepadaku, “menurut kamu ukhuwah itu apa?” jleb, hm.. satu pertanyaan yang tak bisa aku jelaskan namun bisa ku rasakan apa itu arti ukhuwah.

Ukhuwah ikatan jiwa yang melahirkan perasaan kasih sayang, cinta, dan penghormatan yang mendalam terhadap setiap orang, di mana keterpautan jiwa itu ditautkan oleh ikatan akidah Islam, iman dan takwa.

Bagiku ukhuwah itu adalah persahabatan dalam islam. Berbagi cerita, berbagi kisah, berbagi suka dan duka. Ukhuwah itu indah, bahkan lebih indah daripada senja orange di sore hari, ukhuwah itu indah bahkan lebih indah daripada putihnya mawar putih dll.

Ukhuwah itu indah, apalagi ketika melihat sahabat kita tersenyum rasanya meleburkan segala kesedihan dan keresahan yang ada. Smuanya seperti tersapu angin dan hilang.

Ukhuwah itu indah, rasanya dingin dan menyejukkan. Lebih sejuk daripada sejuknya udara pegunungan dipagi hari. Ukhuwah itu terjalin karena ikatan akidah. Ukhuwah itu menyatukan kita yang bukan satu nasab. Allah menjadikan kita dekat diatas landasan keimanan dan ketakwaan.

Ukhuwah itu indah apalagi ketika kita berkumpul bersama dengan orang-orang yang kita sayangi. Karena ukhuwah hidup itu terasa ringan, senyum sahabat kan menjadi pengobat hati.

Karena ukhuwah islam itu menjadi indah.

karena ukhuwah perjuangan ini terasa ringan, yang satu dan yang lain saling menopang dan menyemangati. Karena ukhuwah kita bekerja sama. Karena ukhuwah yang akan menyatukan kita.

Ukhuwah itu indah, bahkan karena indahnya terkadang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Racun Paradigma

Aku tersadar ketika aku kembali ke tanah kelahiranku ada yang berbeda. Paradigma generasi muda telah berubah 1800. Tidak mengerti apa yang telah meracuni isi kepala kalian. Tak ada kah semangat di dalam benak kalian untuk memperbaiki kehidupan yang telah bobrok. Aku tahu kalian memiliki kesulitan dalam hidup tapi tak berpikir kah kalian untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan itu? Kawan, hidup kalian masih panjang bahkan sangat panjang. Masih banyak tugas-tugas kita yang harus kita laksanakan untuk bangsa kita, untuk desa kita atau untuk hidup kita sendiri.

Usia yang terbilang masih sangat dini, tapi kalian memutuskan untuk mengakhirinya dengan sebuah pernikahan. aku rasa bukan seperti ini caranya untuk mengakhiri sebuah kesulitan. Jalan yang ditempuh bahkan menambah sebuah kesulitan menambah masalah. Sungguh jikalau kalian bersungguh-sungguh maka jalan akan terbuka lebar, bukan hanya meyerah pada keadaan.

Wahai teman-teman dan sahabat-sahabatku, jadilah kalian yang terbaik. Desa kita ini membutuhkan generasi-generasi penerus dan kalian tahu, sebenarnya kita lah generasi penerus itu. Sebenarnya kita bisa membangun desa kita tercinta ini dengan kerja sama dan gotong royang, jangan terlepas dari ikatan. Hidup kalian terlalu indah jika hanya diakhiri dengan cara seperti ini. Tahukan kalian bahwa dalam jiwa manusia itu terdapat jiwa seorang pemimpin. Memimpin diri sendiri bahkan emmimpin orang lain. Janganlah berpangku tangan pada yang lain. Mencobalah jadi yang terbaik.

more »

Guru ku

Hari ini aku akan bercerita tentang seorang guru. Seseorang yang aku hormati karena ilmu yang telah beliau tularkan kepadaku hingga aku merasa sangat besryukur atas apa yang beliau ajarkan kepadaku.

Aku terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Orang tuaku tak pernah memaksaku untuk belajar ilmu agama khususnya ilmu belajar membaca Al qur’an. Sejak TK aku pernah belajar cara membaca Al-Quran di majelis ta’lim atau mushola (red: mengaji). Saat itu aku masih TK dan aku tak mengerti apa pun. Ia, ada salah seorang guru (ustadz) yang sangar luar biasa. Setiap kali guru itu datang pasti suasana akan menjadi begitu hening. Setiap anak yang melanggar aturan yang beliau terapkan maka anak itu akan dihukum. Hukumannya macam-macam terkadang dicipratkan air, suruh berdiri selama kegiatan mengaji, dipukul dengan menggunakan kayu dan lain-lain. Aku yang saat itu masih kecil dan tak mengerti apa-apa akhirnya aku berhenti dari kegiatan mengaji.

Waktu terus berlalu, aku mulai menginjak kelas 3 SD. Pernah suatu hari adalah pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) saat itu kami semua diminta untuk menulis tulisan Al-Quran yang tertera di papan tulis. Aku yang saat itu adalah juara kelas, aku tidak bisa menulis tulisan itu dalam buku ku sedangkan temanku yang lain bisa (karena mereka terus mengaji di mushola itu). Akhirnya aku merasa malu setiap kali ada pelajaran PAI. Karena dorongan seperti itulah akhirnya pada saat kelas 5 SD aku kembali mengaji di muhola itu. Saat itu aku mengaji dalam buku IQRO jilid 5. Setiap hari dengan rajin aku selalu datang ke mushola untuk belajar hingga pada saat aku menginjak IQRO Jilid 6 aku kembali dipertemukan dengan guru itu. Beliau tidak berubah, sama kerasnya seperti dahulu. Setiap membaca buku IQRO sebelum kami bisa membaca dengan benar maka beliau tidak akan pernah berhenti untuk mengingatkan. Kami dibentak-bentak, kalau terus-terusan salah maka kami disuruh berdiri sampai benar-benar melafalkan dengan benar. Jika bolos mengaji, maka keesokan harinya kami dihukum dengan berdiri selama kegiatan mengaji dan membaca shalawat sebanyak seribu kali. Kalau tidak melaksanakan tugas (yaitu membaca apa yang akan dibaca keesokan harinya bersama orang tua) maka kami juga akan dihukum yaitu kami disuruh bersujud atau ruku seraya membaca shalawat sebanyak seribu kali). Setelah selesai seribu kali barulah kami  bisa berkatifitas seperti biasa. Suaranya yang keras membuat kami bungkam seribu bahasa jika beliau sedang memarahi salah satu teman kami. Rasanya suasana mengaji selalu mencekam namun ketahuilah sesungguhnya beliau sangat ramah dalam kondisi yang berbeda. Keadaan itu seolah-olah memaksaku untuk bisa mengaji dan malafalkan ayat-ayat Al-Quran dengan benar.

more »

Category: kisah  Leave a Comment

Kamu dan Waktumu

Kamu ngga punya waktu buat merasa sendiri, karena Allah selalu ada untukmu.

Kamu ngga pnya waktu untuk merasa sesak, karena Allah selalu melapangkanmu.

Kamu ngga punya waktu untuk menggerutu dengan apa-apa yang terjadi di dalam dirimu,

Bukankah Allah telah banyak melimpahkan anugerah untukmu? Bukankah Allah membatalkan bala yang tadinya tertulis untukmu? Bukankah kau memiliki sesuatu yang kau anggap anugerah terbesarmu yaitu keluarga. Bukankah kau memiliki itu semua?

Lantas, apakah kau bersyukur?

Apa yang kau risaukan? Apa yang kau sesalkan?

Bersifat positiflah,

Kau tak punya waktu untuk menggerutu, yang kau butuhkan adalah waktu untuk bersyukur atas apa yang kau terima dari Allah SWT. Hanya itu, hanya itu.

Sekarang tersenyumlah

LAPORAN PRAKTIKUM Dasar-Dasar Proteksi Tanaman “Pengukuran Penyakit: Penghitungan Intensitas Penyakit”

Oleh:

Leni Siswati/A24110053

 

Departemen Proteksi Tanaman

Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

2012

BAB 1

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan Negara agraris. Dengan letaknya yang sangat strategis yaitu pada zona khatulistiwa maka Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah terutama dalam bidang pertanian. Indonesia merupakan penduduk terpadat ke-4 di dunia. Dengan tingkat kepadatan tersebut maka mau tidak mau Indonesia harus menyediakan pangan lebih untuk mencukupi kebutuhan pangan domestik. Ironi’a walaupun Indonesia mendapat julukan sebagai Negara agraris namun Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan domestiknya. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya nilai impor Indonesia untuk beberapa komoditas tertentu.

Pertanian yang merupakan salah satu sasaran sector pembangunan perekonomian Indonesia ternyata belum bisa sepenuhnya membantu pemerintah. Salah satu yang menjadi factor tersebut adalah gagalnya masa panen para petani. Salah satu penyebab kegagalan tersebut adalah serangan hama dan penyakit pada tanaman. kejadian penyakit dapat mengakibatkan terjadinya penyimpangan dan juga ketidaknormalan pada tanaman sehingga dapat menyebabkan kehilangan hasil tanaman.
Tanaman yang terkena penyakit dapat diduga dengan cara mengamati tingkat penyakit yang menyerang pada tanaman tersebut. pengamatan yang dilakukan dapat berupa mengamati bagian tanaman yang sakit seperti daun, buah, batang dan juga pada bagian akar. Pengukuran yang dilakukan yaitu untuk mengukur perkembangan epidermik penyakit dalam suatu tempat/wilayah. Dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit diperlukan penentuan kejadian penyakit/insiden yang dapat dilakukan dengan cara menghitung jumlah atau persentase tanaman sakit yang terserang penyakit.

Selama penghitungan tanaman sakit yang berada di lapangan yang perlu diperhatikan yaitu dalam penghitungan tanaman yang sakit dalam menggambarkan tingkat keparahan panyakit yang berbeda pada tiap bagian tanaman berbeda. Selama praktikum berlangsung hal yang sangat diperlukan yaitu pengetahuan tentang intensitas dan tentang insiden penyakit untuk menghitung penyakit pada suatu tanaman.

more »

Category: artikel  Leave a Comment